
Pembelajaran Aplikatif Bahasa Indonesia yang Menantang dan Menyenangkan
Terobosan, UH dengan Praktik Aplikatif
Memberikan pembelajaran yang aplikatif, menyenangkan, dan menantang tentu sangat menentukan dalam membentuk mental dan pengalaman siswa ke depan. Siswa akan memiliki wawasan dan kreativitas kalau diberikan tantangan berupa pembelajaran yang sesuai dengan usianya.
Setiap pelajaran seharusnya disuguhkan dengan dan berorientasi aplikatif. Seperti halnya Pembelajaran bahasa Indonesia. Lewat pembelajaran wawancara, siswa tidak hanya diberi tantangan berwawancara dengan guru dan karyawan yang ada di sekolah. Atau pada orang tua atau petugas RT/RW yang ada di sekitar rumanya. Siswa diberikan orientasi bahwa objek wawancara sangat banyak. Beragam. Tema yang disuguhkan juga beraneka ragam.
Ketika bulan Ramadhan, siswa SMP Muhammmadiyah 12 GKB Gresik, kelas VIII, mencoba aplikasi jurnalistiknya dengan wawancara penjual pada pasar dadakan yang berada di Perumahan Gresik Kota Baru. Siswa melakukan wawancara kepada penjual dan pembeli pasar jajanan buka puasa. Tidak hanya mengorek cerita dibalik kisah jualan sampai modal dan keuntungannya, siswa juga menerapkan pembelajaran fotografer.
Hanya berselang 1 minggu, 1 kelompok yang terdiri dari 1 siswa sebagai penulis dan fotografer sudah menyelesaikan tugas akhir sebagai ulangan hariannya ke Pembina. Tanpa disadari sebelumnya, karya mereka benar-benar bisa menggambarkan karya jurnalistik professional.
Ulangan harian siswa dijalani dengan aplikasi dan tantangan tidak hanya berkisar pada teori dan teori saja. Menulis itu butuh belajar langsung. Dari situ, siswa merasakan sendiri bahwa menulis adalah kebutuhan dan seni.
Berikut kutipan 3 karya siswa yang terbaik secara berurutan
Naskah terbaik 1
Mantan Preman Rela Jualan Demi Kebutuhan Sehari-Hari
Saat bulan ramadhan tiba, seorang mantan preman yang bernama Lanu, berjulan sinom di depan SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik. Pada tanggal 12 September ada beberapa anak yang membantu mempromosikan dagangan Lanu. Saat itu pun, dagangan Lanu laku banyak dari hari biasanya. Lanu berjualan sinom milik majikannya. Lanu menjual sinomnya seharga Rp. 2500 per botolnya. Pedagang itu hanya untung Rp. 500 rupiah perbotolnya. Dia rela berjulan sinom hnya untuk menghidupi kebutuhannya sehari – hari. Lanu berjualan tidak hanya pada waktu ramadhan saja. Biasanya hari – hari biasa dia juga berjualan, tetapi dia tidak berjualan sinom, melainkan batagor dengan tempat yang sama.
Biasanya kalau dagangan Lanu tidak habis, maka Lanu tidak makan. Lanu berjualan mulai awal ramadhan. Kemungkinan tahun depan dia akan beralih berejualan yang lain. Setiap harinya, rata – rata Lanu hanya mendapatkan untung Rp. 5000,00 rupiah saja.
“Kalau setiap harinya saya hanya mendapatkan untung 5000 saja, terkadang saya tidak makan sahur, karna uang yang ada
tidak cukup untuk menghidupi keluargaku” ujar sang penjual. Lanu mempunyai seorang istri.
Lanu dulunya bekehidupan kurang mampu. Tetapi Lanu menyadari, bahwa kehidupn Lanu yang dulu tidak sebaik kehidupan Lanu yang sekrang. Lanu sekarang lebih merasa senang, karna di sini, Lanu memounyai teman yang banyak dan sangat baik dengan dia. Ketika dia masih bersekolah, Lanu bersekolah hanya sampai kelas 3 sekolah dasar. Karna Lanu merasa bahwa dia adalah seorang yang dijadikn bahan ledekan teman– temannya. Dia sering dihina sama teman-teman Lanu yang kaya. Tetapi Lanu terus berjuan mencari kelemahan orang yang selalu menghina dia. Akhirnya Lanu melakuakan yang seharusnya tidak dilakuakan.
Abdur Rozaq dan Nindya V.E. / VIII - D
Naskah terbaik 2
Mengulas lebih lanjut Variasi Unik Pedagang Pasar Dadakan
Berniat Coba-Coba, Malah Ketiban Untung
Ramadhan sebagai bulan yang berkah. Hal positif dapat dilakukan pada bulan suci ini. Suasana ramadhan sangat berpengaruh di Gresik Kota Baru (GKB). Salah satunya, pasar dadakan yang sedang terjadi selama bulan suci. Berbagai kesibukan dengan pembeli dapat dilihat di jajaran pedagang makanan di pinggir jalan raya.
Tak mau terlewatkan. Yanti(39), selepas kewajiban sebagai ibu rumah tangga terselesaikan, Yanti bergegas untuk menjual kue ringan sebagai tambahan penghasilan.Yanti yang membuka usahanya bersama dengan kelurga, tak perlu mengeluarkan dana yang banyak. Bermodalkan kendaraan mobil suami, Yanti siap untuk mulai berdagang tepat pukul 15.00. “Moment ini eman kalau tidak dimeriahkan dengan berjualan makanan favorit saya, yaitu: kacang, kue,dsb.,”ujar Yanti. “Kalau tidak laku, saya bawa lagi pulang dan dibagikan ke semua keluarga waktu lebaran nanti,” tambahnya.
Lain Yanti lain juga Sumia.Sumiah, ibu yang berasal dari Jogja dan membuka awal usaha warung makanan gudeg di Surabaya. Sumia yang berniat untuk meramaikan bulan suci dan memperkenalkan masakan khas Jogja malah tumbuh menjadi tekad awalnya membuka cabang di Gresik. “Respon warga Gresik sangat bagus. Pantas, tak perlu berpikir panjang untuk membuka cabang warung pertama di Gresik,” ujar Mia. “Warung kami tak akan mengubah cita rasa atau menu yang telah menjadi ciri khas warung pojoek yang ada di Jalan Surakarta Surabaya.” jelasnya secara singkat.
Yanti dan Sumiah, dua contoh pedagang yang tak memperdulikan adanya laba. Tujuan mereka hanya memeriahkan bulan ramadhan dengan membuat variasi cara dagang yang unik. Tak peduli BBM naik, mereka tetap nekad berjualan di dalam kendaraan mobil. Sikap mereka yang cuek, malah mendatangkan keuntungan yang cukup banyak. “Sewa tempat gratis dan BBM yang tidak mempengaruhi usaha kami, membuat kami untuk berdagang di dalam mobil ditambah dengan menggunakan busana khas Jogja.Biar menarik!”jelas Sumia.“BBM naik, harga kacang dan kue otomatis saya tambahkan.Kacang yang dijual bentuknya unik dan dijual diatas bagasi mobil membuat pembelinya tetap banyak yang tertarik,”jelas Yanti.
Begitulah variasi unik yang dilakukan oleh dua pedagang yang mendadak untung. Padahal mereka berniat untuk memeriahkan bulan ramadhan tahun ini. Semoga akan ada variasi unik yang terjadi di tahun depan. (Karya Faudina dan Helmi, VIII D)
Naskah Terbaik 3
Kolak Jadikan Tulang Punggung
Bulan Ramadhan hanya datang sekali tiap tahun. Bulan Ramadhan juga identik dengan kolak. Minuman yang berisi kacang hijau atau pisang ini, memang cocok sekali diminum saat bedug magrib tiba. Dengan harga terjangkau semua kalangan bisa menikmatinya Tetapi, di GKB Ramadhan identik dengan pasar dadakannya. Sehingga ini menguntungkan banyak orang untuk mengambil lahan di GKB sebagai tempat berjualan. Semua penjual dadakan memenuhi sepanjang jalan di GKB. Akibatnya sepanjang jalan itu macet karena sepeda motor dan mobil. Namun itu tidak menghentikan niat penjual untuk tetap berjualan.
Di Pasar dadakan itu banyak penjual yang menjual kolak, takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Seperti Erna, anak yang masih berumur 17 tahun ini memilih berjualan kolak. Karena cara membuatnya tergolong mudah dan banyak peminatnya. Satu kolak ia hargai Rp. 3000,00. Sebenarnya bukan kolak saja yang ia jual. Tapi ada sayur asam,bayam dan nasi kuning. Dia baru 1 tahun berjualan dan hanya pada saat Ramadhan saja. Dia berjualan dari jam 15.40 - !7.30. Hanya dengan modal Rp. 100.000 dari tabungan kedua orang tuanya, Erna mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 200.000. Keuntungan dari hasil julan digunakan untuk membiayai adiknya bersekolah dan makan sehari-hari. Terkadang,kalu kolaknya tidak habisterjual dia berikan kepada tetangganya. Erna adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakanya sudah bekerja dan jauh dari keluarga, Seharusnya Erna duduk dibangku kelas 2 SMA, namun karena faktor ekonomi dia harus berhenti sekolah dan adiknya sekarang masih SMA kelas satu. Walaupun dia dan adiknya masih tinggal dengan orang tua, Erna yang menjual hasil dagangan orang tuanya sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya.
Perjuangan Erna untuk membiayai hidup sangat berat. Dia lahir dan tinggal di Lamongan. Tiap hari dia harus pulang pergi Lamongan – Gresik hanya untuk berjualan di GKB. “kalau di GKB itu ramai, apalagi saat bulan Ramadhan.”, ujar Erna. Meskipun rasanya berat sekali, Erna tidak pernah mengeluh. Dia tetap semangat menjalani hidup. Karena dia yakin dengan semangat, hidup akan lebih berarti.


0 comments:
Post a Comment