1.Siswa wajib
Ciri siswa wajib, antara lain :
a.Akhlaq mulia
b.Menghargai hak dan pendapat orang lain
c.Keberadaannya sangat disukai dan dibutuhkan
d.Ketiaaannya sangat dirasakan kehilangan
e.Dia sangat disukai karena pribadinya sangat menesankan
f.Cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiakan siapapun yang berjumpa dengannya
g.Tutur katanya sopan tak pernah melukai siapapun
h.Pembicaraannya sangat bijak dan menjadi penyejuk hati
i.Perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan
j.Bisa menghargai waktu dengan baik
k.Menejemen belajar tanpa disuruh oleh orang lain
l.Penuh prestasi akademik maupun nonakademik
m.Bersemangat dalam belajar
n.Disiplin
o.Memiliki motivasi dalam berprestasi
2.Siswa sunnah
Ciri siswa sunah, antara lain :
a.Kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan tapi ketidakhadirannya tidak terasa kehilangan
b.Berprestasi, Bersemangat dalam belajar
c.Pribadi yang menyenangkan
Andai saja kelompok ini lebih berilmu dan bertekat mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya naik pangkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama
3.Siswa mubah
Ciri siswa mubah, antara lain :
a.Ada dan tidaknya sama saja
b.Kehadirannya tidak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudhorotnya
c.Kepergiannya tak terasa kehilangan
d.Tidak mempunyai motivasi
e.Tidak memiliki kualitas ilmu
f.Asal sekolah
g.Tidak memiliki prestasi yang membanggakan
h.Kehidupannya tidak menarik
4.Siswa makruh
Ciri siswa makruh, antara lain :
a.Menimbulkan masalah
b.Ketidakhadirannya tidak menjadi masalah
c.Kehadirannyanyak mengganggu dan membuat tidak nyaman orang lain
d.Banyak bicara daripada bertindak
e.Kalau diberi tugas tidak pernah selesai
f.Sering mengganggu orang lain
5.Siswa haram
Ciri siswa haram, antara lain :
a.Kehadirannya sangat merugikan atau kehadirannya sangat tidak diharapkan
b.Tidak mempunyai akhlaq yang baik
c.Sering memfitnah
d.Mengadu domba
e.Berbohong
f.Suka membual
g.Tidak amanah
h.Sangat tidak disiplin
i.Pekerjaan tidak pernah beres
j.Bukan meyelesaikan pekerjaan malah pembuat masalah
About Me
- Ichwan Arif
- Saya adalah pendidik mengimpikan tantangan. Salah satunya adalah bagaimana peserta didik saya mampu memiliki skill menulis yang handal
Kritik dan Saran
|
|
Wednesday, April 22, 2009
Enjoy Fun Learning : Memeta Mata Rantai Pendidikan Kita
Babakan sejarah pendidikan di Indonesia mengalami proses yang unik. Fase dinamika tersebut diawali sebelum kemerdekaan dengan mengadopsi 2 model kurikulum. Pertama, muatan agama, yang dibawa orang pribumi dan dipelopori para raja. Kedua, muatan umum yang dibawa para penjajah. Lewat arsitek Ahmad Dahlan, terobosan yang jenius di bidang pendidikan coba dikibarkan.
Dengan mengawinkan muatan agama dan umum, buah pemikirannya yang kemudian dikendalikan dibawah motor Majelis Dikdasmen (Pendidikan dasar dan Menengah) telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam peta pendidikan Indonesia.
Belajar dari sejarah, bentuk continous Improvement adalah bagaimana sekarang dan ke depan, model pendidikan (baca: sekolah) yang telah digagas oleh Ahmad Dahlan, diorientasikan menjadi sekolah yang enjo fun dan penuh inovasi. Dengan dasar tersebut, sekolah kita akan diminati dan menjadi pilihan pertama masyarakat.
Skenario pendidikan tersebut membutuhkan banyak instrumen yang saling mendukung. Tidak bergerak sendirian. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh adalah guru yang akan mengusung metode belajar yang tidak kaku. Lepas dari keterbelenguan. Di sinilah, guru akan menjalankan langkah awal untuk dalam skenario besar pembelajaran.
Pertama, guru sebagai agen perubahan. Guru harus melakukan renovasi diri dengan cara membaca visi misi sekolah, kemauan kurikulum, dan dunia luar sekolah. Atau dengan kata lain, mereka harus belajar tiada henti dengan cara up grading skill masing-masing secara aktif. Selanjutnya melakukan transfer knowledge ke siswa yang nantinya akan menjadikan obyek belajar yang new update. Hal in dapat dilakukan dengan cara sesama rumpun mata pelajaran, lintas mata pelajaran, praktisi engineer, atau belajar melalui network dunia maya/internet.
Kedua, metode pendekatan ke siswa. Kita berharap, siswa at home di sekolah. Untuk itu, kita harus wujudkan surga sekolah di mata siswa. Suasana belajar yang menyenangkan harus kita ciptakan. Ajak mereka ‘bermain-main’ eksperimen. Mengeksplorasi dan mengkaji data ilmiah di laboratorium. Ajak siswa presentasi hasil diskusi. Belajar mengungkapkan gagasan, pikiran sekaligus melatih performance di depan publik.
Ajak mereka mengamati lingkungan sebagai penelitian pencemaran. Ajak berpikir bagaimana mengolah sampah dan menghijaukan lingkungan. Atau memberi PR membawa apel, kertas, dan plastik. Berikutnya, ajaklah untuk menanam di tempat khusus, apa yang telah dibawa siswa. Durasi perminggu, bongkar apa yang telah ditanam. Suruh mengamati tingkat kemampuan tanah dalam mengurai buah, kertas dan platik. Yang terakhir menarik simpulan dari eksperimen tadi.
Hal yang perlu diperhatikan juga adalah kedekatan siswa dan guru. Guru berharap bisa sebagai tempat motivasi, mediator, dan moderator. Hilangkan kesan seperti majikan dengan pembantu. Robot yang menunggu perintah sang pemegang remot.
Ciptakan peluang anak berkarya melalui berbagai model. Misalnya science expo, lomba Jurnalis Mading, festifal film Indie, IT camp, science camp, english community, atau pameran karya seni dan fotografer.
Anak diajak berfikir aplikasi karya. Membuat pertisida nabati, minyak bio disel dari Jagung, pengolah limbah minyak jelanta menjadi sabun mandi atau pembuatan water rocket dari botol plastik. Kegiatan ‘bermain-main’ tersebut memberikan motivasi tersendiri bagi siswa untuk lebih menyukai IPA dan matematika.
Ketiga, integrasi dengan agama. "Apakah tidak engkau renungkan. Apakah tidak engkau lihat ? Apakah tidak engkau pikirkan ?“ Dan masih banyak ungkapan lagi dalam Al qur’an sebagai sumber motivasi dalam mengkaji dan belajar.
Guru harus pintar untuk mengaitkan setiap akhir pembelajaran dengan nilai agama. Hal ini akan membantu keteguhan hati dan semakin dekat dengan Sang Kholik.Semisal, dengan membangun kualitas ibadah dengan merenungi ciptaan Allah lewat Surat Al Jaatsiyah 45. Memberi inspirasi astronomi lewat Surat Al Baqorah 164, Surat Al Anbiyaa’ 33, Surat Yasin 3, dan Surat Adz Dzariyaat 7. Memberi inspirasi kekuatan dalam Surat Al Hadid 25.
Kita harus keluar dari kekakuan metode pembelajaran. Siswa itu membutuhkan pengalaman aplikasi keilmuan dan transfer logika problem solving dari guru.
Mencipta pembelajaran enjoy and fun yang mengena pada sasaran dan target. Penuh kreativitas dan inovasi. Memberikan ruang gerak untuk bereksperimen dalam memproduk karya. Memberi pengalaman-pengalaman baru akan lebih ‘berharga’ daripada sekedar duduk manis mendengarkan untaian teori di dalam kelas. Siswa adalah objek yang mengkaji ilmu bukan penampung ilmu semata.
Predikat guru akan lebih memiliki makna dengan continous Improvement. Predikat guru akan lebih berharga dengan siswa yang memiliki kemampuan dalam aplikasi dan inovasi yang kontekstual yang dipoles dengan nilai-nilai moral spiritual.
Inilah PR besar kita !
Dengan mengawinkan muatan agama dan umum, buah pemikirannya yang kemudian dikendalikan dibawah motor Majelis Dikdasmen (Pendidikan dasar dan Menengah) telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam peta pendidikan Indonesia.
Belajar dari sejarah, bentuk continous Improvement adalah bagaimana sekarang dan ke depan, model pendidikan (baca: sekolah) yang telah digagas oleh Ahmad Dahlan, diorientasikan menjadi sekolah yang enjo fun dan penuh inovasi. Dengan dasar tersebut, sekolah kita akan diminati dan menjadi pilihan pertama masyarakat.
Skenario pendidikan tersebut membutuhkan banyak instrumen yang saling mendukung. Tidak bergerak sendirian. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh adalah guru yang akan mengusung metode belajar yang tidak kaku. Lepas dari keterbelenguan. Di sinilah, guru akan menjalankan langkah awal untuk dalam skenario besar pembelajaran.
Pertama, guru sebagai agen perubahan. Guru harus melakukan renovasi diri dengan cara membaca visi misi sekolah, kemauan kurikulum, dan dunia luar sekolah. Atau dengan kata lain, mereka harus belajar tiada henti dengan cara up grading skill masing-masing secara aktif. Selanjutnya melakukan transfer knowledge ke siswa yang nantinya akan menjadikan obyek belajar yang new update. Hal in dapat dilakukan dengan cara sesama rumpun mata pelajaran, lintas mata pelajaran, praktisi engineer, atau belajar melalui network dunia maya/internet.
Kedua, metode pendekatan ke siswa. Kita berharap, siswa at home di sekolah. Untuk itu, kita harus wujudkan surga sekolah di mata siswa. Suasana belajar yang menyenangkan harus kita ciptakan. Ajak mereka ‘bermain-main’ eksperimen. Mengeksplorasi dan mengkaji data ilmiah di laboratorium. Ajak siswa presentasi hasil diskusi. Belajar mengungkapkan gagasan, pikiran sekaligus melatih performance di depan publik.
Ajak mereka mengamati lingkungan sebagai penelitian pencemaran. Ajak berpikir bagaimana mengolah sampah dan menghijaukan lingkungan. Atau memberi PR membawa apel, kertas, dan plastik. Berikutnya, ajaklah untuk menanam di tempat khusus, apa yang telah dibawa siswa. Durasi perminggu, bongkar apa yang telah ditanam. Suruh mengamati tingkat kemampuan tanah dalam mengurai buah, kertas dan platik. Yang terakhir menarik simpulan dari eksperimen tadi.
Hal yang perlu diperhatikan juga adalah kedekatan siswa dan guru. Guru berharap bisa sebagai tempat motivasi, mediator, dan moderator. Hilangkan kesan seperti majikan dengan pembantu. Robot yang menunggu perintah sang pemegang remot.
Ciptakan peluang anak berkarya melalui berbagai model. Misalnya science expo, lomba Jurnalis Mading, festifal film Indie, IT camp, science camp, english community, atau pameran karya seni dan fotografer.
Anak diajak berfikir aplikasi karya. Membuat pertisida nabati, minyak bio disel dari Jagung, pengolah limbah minyak jelanta menjadi sabun mandi atau pembuatan water rocket dari botol plastik. Kegiatan ‘bermain-main’ tersebut memberikan motivasi tersendiri bagi siswa untuk lebih menyukai IPA dan matematika.
Ketiga, integrasi dengan agama. "Apakah tidak engkau renungkan. Apakah tidak engkau lihat ? Apakah tidak engkau pikirkan ?“ Dan masih banyak ungkapan lagi dalam Al qur’an sebagai sumber motivasi dalam mengkaji dan belajar.
Guru harus pintar untuk mengaitkan setiap akhir pembelajaran dengan nilai agama. Hal ini akan membantu keteguhan hati dan semakin dekat dengan Sang Kholik.Semisal, dengan membangun kualitas ibadah dengan merenungi ciptaan Allah lewat Surat Al Jaatsiyah 45. Memberi inspirasi astronomi lewat Surat Al Baqorah 164, Surat Al Anbiyaa’ 33, Surat Yasin 3, dan Surat Adz Dzariyaat 7. Memberi inspirasi kekuatan dalam Surat Al Hadid 25.
Kita harus keluar dari kekakuan metode pembelajaran. Siswa itu membutuhkan pengalaman aplikasi keilmuan dan transfer logika problem solving dari guru.
Mencipta pembelajaran enjoy and fun yang mengena pada sasaran dan target. Penuh kreativitas dan inovasi. Memberikan ruang gerak untuk bereksperimen dalam memproduk karya. Memberi pengalaman-pengalaman baru akan lebih ‘berharga’ daripada sekedar duduk manis mendengarkan untaian teori di dalam kelas. Siswa adalah objek yang mengkaji ilmu bukan penampung ilmu semata.
Predikat guru akan lebih memiliki makna dengan continous Improvement. Predikat guru akan lebih berharga dengan siswa yang memiliki kemampuan dalam aplikasi dan inovasi yang kontekstual yang dipoles dengan nilai-nilai moral spiritual.
Inilah PR besar kita !
Tuesday, April 21, 2009
Pengertian, Jenis, dan Bahan Penulisan Drama
Pengertian Drama
a. Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.
b. Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Harymawan, 1988:1). Menurut Aristoteles, drama adalah tiruan (imitasi) dari action (Dietrich, 1953:3). Ada beberapa pengertian yang dirumuskan oleh banyak ahli di bidang drama: Menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Dietrich, drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience).
Drama adalah cerita tentang konflik manusia, kita tidak bisa memahami sampai kita tahu kapan, mengapa, dan bagaimana konflik manusia. Drama adalah cerita dalam bentuk dialog, drama tak lebih dari interpretasi kehidupan, drama adalah salah satu bentuk kesenian. Drama dirancang untuk penonton, drama bergantung pada komunikasi. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4).
Mempelajari naskah drama dapat dilakukan dengan cara mempelajari dengan seksama kata-kata, ungkapan, kalimat atau pernyataan tertentu yang dipergunakan oleh pengarang dalam naskah drama yang ditulisnya. Memang penonton mungkin tidak pernah membaca sendiri dialog dalam naskah. Mereka mendengarkan dialog diucapkan oleh aktor di panggung (Ghazali, 2001:2)
Berdasarkan beberapa teori tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa drama adalah sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh berisi konflik manusia. Drama sebagai karya sastra dapat dibedakan menurut dua penggolongan mendasar yaitu drama sebagai sastra lisan dan drama sebagai karya tulis. Sebagai sastra lisan drama adalah teater, sedang drama sebagai karya tulis adalah peranan naskah terhadap komunikasi drama itu sendiri. Dalam hal ini lebih ditekankan aspek pembaca drama daripada penonton, dan merubah pendekatan yang berorientasi kepada aktor ke pendekatan yang berorientasi terhadap naskah.
Jenis Drama
Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1. Drama Baru / Drama Modern adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2. Drama Lama / Drama Klasik adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.
Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :
1. Drama Komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2. Drama Tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3. Drama Tragedi Komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4. Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.
5. Lelucon / Dagelan adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
6. Operet / Operette adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7. Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
8. Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
9. Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.
10. Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
Bahan Penulisan Drama
Tokoh
Drama dibangun dari konflik, karakter manusia adalah bahan dasarnya. Drama adalah cerita tentang tokoh manusia dalam konflik. Pertunjukan yang dramatis harus menggambarkan kehidupan dari tokoh-tokohnya (Dietrich, 1953:25). Tidak ada drama tanpa pelaku, bagaimanapun bentuk dan jenis drama tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra selalu diemban atau terjadi atas diri tokoh-tokoh tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita, sehingga peristiwa tersebut mampu menjalin suatu cerita yang padu disebut tokoh (Maryaeni, 1992:39). Inti sebuah naskah drama terletak pada hadirnya keinginan seorang tokoh dan ia berjuang keras untuk mencapainya. Hidup bagi tokoh itu akan terasa tidak bermakna jika tujuan atau cita-cita yang ingin dicapainya itu kandas di perjalanan. Berbagai cara dia lakukan untuk memperoleh keinginan atau tujuan hidupnya (Ghazali, 2001:10).
Dengan demikian berdasarkan beberapa pengertian diatas, untuk menganalisis tokoh dan hadirnya pola motivasional tokoh dapat dilakukan melalui pemahaman dialog dan tingkah laku atau perbuatan tokoh yang hadir dalam drama.
Situasi/Latar. Jika situasi adalah dasar dari gerak kehidupan, begitu pula dalam drama. Setiap lakon adalah rentetan situasi, dimulai dari situasi yang berubah dan berkembang selama action terlaksana. Bahannya bersumber pada kehidupan, sedangkan drama adalah penggarapan bahan tersebut (Dietrich, 1953:25). Latar adalah lingkungan tempat untuk mengekspresikan diri tokoh, dan tempat terjadinya peristiwa. Latar dapat berfungsi sebagai metominia atau metafora yaitu sebagai ekspresi dari tokoh-tokoh yang ada (Wellek & Warren, 1990:291). Menurut Aminuddin (1986:136) fungsi latar adalah: (1) fungsi fisikal, memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya sehingga sebuah cerita menjadi logis, (2) fungsi psikologis, sebagai keadaan batin para tokoh atau menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh, bila later tersebut mampu menuansakan makna tertentu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan macamnya latar dibagi atas latar fisik dan latas sosial. Sedang secara fungsional latar dapat dibedakan menjadi latar fisik dan latar psikologis.
Tema/Topik
Topik atau tema adalah ide pokok dari lakon atau drama. Tema mungkin adalah maksud dan keinginan pengarang, mungkin sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi, atau bisa jadi imajinasi pengarang berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidupnya (Dietrich, 1953:25). Dalam drama istilah tema sering disebut dengan istilah premise, yang berperan sebagai landasan pengembangan pola bangun cerita (Harymawan, 1988:24). Tema merupakan pokok pikiran atau sesuatu yang melandasi suatu karya sastra diciptakan. Tema merupakan sesuatu yang paling hakiki dalam setiap karya sastra meskipun tidak meninggalkan dan mengesampingkan unsur lainnya (Maryaeni, 1992:32).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penulis mengembangkan ceritanya didasari oleh pemahaman sebuah tema. Namun sebaliknya seorang pembaca untuk memahami sebuah tema harus lebih dulu memahami unsur-unsur signifikan naskah yang menjadi media pemapar tema.
Struktur Lakuan Drama
Betapapun seandainya sebuah naskah dikembangkan menjadi naskah tanpa plot, namun tetap ada tuntutan bahwa pengembangan tokoh harus jelas melalui rangkaian tertentu. Menurut Ghazali (2001:7), plot sebuah naskah drama ialah pengembangan peristiwa-peristiwa dramatik melalui munculnya motivasi-motivasi yang mengenai karakter tersebut.
Aristoteles membagi permainan dalam dua bagian yaitu komplikasi dan penyelesaian. Dari pemahaman tersebut ditafsirkan menjadi lima bagian: esposition, complication, climax, resolution / denouement, dan conclusion / catastrophe. Pada tahun 1863 Gustav Freytag menggambar piramida action memakai lima pembagian Aristoteles berdasar pada komplikasi dan penyelesaian yang menjadi rising action (munculnya aksi dramatis) sampai klimaks dan falling action (turunnya tensi permainan) sampai akhir.
a. Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.
b. Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Harymawan, 1988:1). Menurut Aristoteles, drama adalah tiruan (imitasi) dari action (Dietrich, 1953:3). Ada beberapa pengertian yang dirumuskan oleh banyak ahli di bidang drama: Menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Dietrich, drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience).
Drama adalah cerita tentang konflik manusia, kita tidak bisa memahami sampai kita tahu kapan, mengapa, dan bagaimana konflik manusia. Drama adalah cerita dalam bentuk dialog, drama tak lebih dari interpretasi kehidupan, drama adalah salah satu bentuk kesenian. Drama dirancang untuk penonton, drama bergantung pada komunikasi. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4).
Mempelajari naskah drama dapat dilakukan dengan cara mempelajari dengan seksama kata-kata, ungkapan, kalimat atau pernyataan tertentu yang dipergunakan oleh pengarang dalam naskah drama yang ditulisnya. Memang penonton mungkin tidak pernah membaca sendiri dialog dalam naskah. Mereka mendengarkan dialog diucapkan oleh aktor di panggung (Ghazali, 2001:2)
Berdasarkan beberapa teori tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa drama adalah sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh berisi konflik manusia. Drama sebagai karya sastra dapat dibedakan menurut dua penggolongan mendasar yaitu drama sebagai sastra lisan dan drama sebagai karya tulis. Sebagai sastra lisan drama adalah teater, sedang drama sebagai karya tulis adalah peranan naskah terhadap komunikasi drama itu sendiri. Dalam hal ini lebih ditekankan aspek pembaca drama daripada penonton, dan merubah pendekatan yang berorientasi kepada aktor ke pendekatan yang berorientasi terhadap naskah.
Jenis Drama
Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1. Drama Baru / Drama Modern adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2. Drama Lama / Drama Klasik adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.
Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :
1. Drama Komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2. Drama Tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3. Drama Tragedi Komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4. Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.
5. Lelucon / Dagelan adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
6. Operet / Operette adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7. Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
8. Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
9. Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.
10. Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
Bahan Penulisan Drama
Tokoh
Drama dibangun dari konflik, karakter manusia adalah bahan dasarnya. Drama adalah cerita tentang tokoh manusia dalam konflik. Pertunjukan yang dramatis harus menggambarkan kehidupan dari tokoh-tokohnya (Dietrich, 1953:25). Tidak ada drama tanpa pelaku, bagaimanapun bentuk dan jenis drama tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra selalu diemban atau terjadi atas diri tokoh-tokoh tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita, sehingga peristiwa tersebut mampu menjalin suatu cerita yang padu disebut tokoh (Maryaeni, 1992:39). Inti sebuah naskah drama terletak pada hadirnya keinginan seorang tokoh dan ia berjuang keras untuk mencapainya. Hidup bagi tokoh itu akan terasa tidak bermakna jika tujuan atau cita-cita yang ingin dicapainya itu kandas di perjalanan. Berbagai cara dia lakukan untuk memperoleh keinginan atau tujuan hidupnya (Ghazali, 2001:10).
Dengan demikian berdasarkan beberapa pengertian diatas, untuk menganalisis tokoh dan hadirnya pola motivasional tokoh dapat dilakukan melalui pemahaman dialog dan tingkah laku atau perbuatan tokoh yang hadir dalam drama.
Situasi/Latar. Jika situasi adalah dasar dari gerak kehidupan, begitu pula dalam drama. Setiap lakon adalah rentetan situasi, dimulai dari situasi yang berubah dan berkembang selama action terlaksana. Bahannya bersumber pada kehidupan, sedangkan drama adalah penggarapan bahan tersebut (Dietrich, 1953:25). Latar adalah lingkungan tempat untuk mengekspresikan diri tokoh, dan tempat terjadinya peristiwa. Latar dapat berfungsi sebagai metominia atau metafora yaitu sebagai ekspresi dari tokoh-tokoh yang ada (Wellek & Warren, 1990:291). Menurut Aminuddin (1986:136) fungsi latar adalah: (1) fungsi fisikal, memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya sehingga sebuah cerita menjadi logis, (2) fungsi psikologis, sebagai keadaan batin para tokoh atau menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh, bila later tersebut mampu menuansakan makna tertentu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan macamnya latar dibagi atas latar fisik dan latas sosial. Sedang secara fungsional latar dapat dibedakan menjadi latar fisik dan latar psikologis.
Tema/Topik
Topik atau tema adalah ide pokok dari lakon atau drama. Tema mungkin adalah maksud dan keinginan pengarang, mungkin sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi, atau bisa jadi imajinasi pengarang berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidupnya (Dietrich, 1953:25). Dalam drama istilah tema sering disebut dengan istilah premise, yang berperan sebagai landasan pengembangan pola bangun cerita (Harymawan, 1988:24). Tema merupakan pokok pikiran atau sesuatu yang melandasi suatu karya sastra diciptakan. Tema merupakan sesuatu yang paling hakiki dalam setiap karya sastra meskipun tidak meninggalkan dan mengesampingkan unsur lainnya (Maryaeni, 1992:32).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penulis mengembangkan ceritanya didasari oleh pemahaman sebuah tema. Namun sebaliknya seorang pembaca untuk memahami sebuah tema harus lebih dulu memahami unsur-unsur signifikan naskah yang menjadi media pemapar tema.
Struktur Lakuan Drama
Betapapun seandainya sebuah naskah dikembangkan menjadi naskah tanpa plot, namun tetap ada tuntutan bahwa pengembangan tokoh harus jelas melalui rangkaian tertentu. Menurut Ghazali (2001:7), plot sebuah naskah drama ialah pengembangan peristiwa-peristiwa dramatik melalui munculnya motivasi-motivasi yang mengenai karakter tersebut.
Aristoteles membagi permainan dalam dua bagian yaitu komplikasi dan penyelesaian. Dari pemahaman tersebut ditafsirkan menjadi lima bagian: esposition, complication, climax, resolution / denouement, dan conclusion / catastrophe. Pada tahun 1863 Gustav Freytag menggambar piramida action memakai lima pembagian Aristoteles berdasar pada komplikasi dan penyelesaian yang menjadi rising action (munculnya aksi dramatis) sampai klimaks dan falling action (turunnya tensi permainan) sampai akhir.
Wednesday, April 15, 2009
Mencipta Motivasi dan Strategi Pengembangan Kreativitas Menulis bagi Siswa
Masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas hanya diarahkan kepada proses kemampuan anak menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupannya sehar-hari. Akibatnya ketika mereka lulus, mereka pintar secara teoretis, akan tetapi miskin dalam aplikasi.
Salah satu dari berbagai permasalah tersebut terletak pada lemahnya kemampuan menulis siswa. Kebanyakan siswa lebih berorientasi pada menghafal teori dalam menyelesaikan soal-soal. Mereka minim sekali dalam pembelajaran menulis secara praktik. Ruang gerak meraka dalam mengapresiasikan diri dalam pengembangan ide, gagasan, atau argumen lewat menulis sangat lemah. Kurang.
Adalah pengalaman belajar yang kurang kita transfer ke siswa. Guru kurang memberikan pengalaman belajar, khususnya dalam pembiasaan menulis. Di sini guru bahasa Indonesia tidak bisa dijadikan kambing hitan dalam lemahnya pembiasaan menulis siswa. Tetapi menjadi tanggung jawab guru secara keseluruhan.
Kata kuncinya adalah bekerja sama antarguru mata pelajaran. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia bisa mengajarkan tentang penulisan sebuah karya tulis ilmiah yang baik dalam bentuk makalah yang sangat sederhana. Guru mata pelajaran lain bisa memberikan tugas kepada siswa untuk menuliskan sebuah karya tulis dalam bentuk makalah sederhana. Guru sejarah, misalnya, bisa menugaskan siswa membuat karangan tentang bagaimana terjadinya Perang Diponegoro. Guru IPA dapat menyuruh siswa menyusun karya tulis sederhana tentang budi daya jamur tiram putih. Guru matematika bisa menugasi anak didiknya tentang aplikasi limit dan integral dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, adalah energi motivasi kepada siswa harus benar-benar dijadikan sebagai ’alat bantu’ yang bisa menjembatani antara niat, minat, dan produk.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu. Aapakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Strategi Menulis
Anggapan yang keliru bahwa menulis itu memerlukan bakat khusus. Sebenarnya, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran, yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen yang terkait dengan faktor bakat. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.
Strategi untuk mengembangkan pembelajaran menulis di sekolah adalah:
1. Beri siswa permasalahan
2. Ajak siswa untuk merekam permasalahan dalam tulisan
3. Ajak siswa untuk menjawab 5W + 1H dalam setiap permasalahan
4. Beri ruang gerak siswa dalam mengapresiasikan gagasan idenya
5. Beri mereka sarana untuk mengaktualisasikan karya
6. Beri penghargaan
Kata Kunci
Menulis, berarti kita memasuki dunia ketrampilan. Semakin sering seseorang menulis, maka ia semakin terampil. Semakin trampil seseorang menulis, maka ia semakin menghasilkan tulisan yang berbobot. Karena ia harus trampil bertata bahasa dan EYD yang baik, juga trampil menuangkan gagasan yang ada, trampil membaca kondisi masyarakat, trampil mencari footnote, dan trampil untuk menperdalam masalah. Begitu juga kalau seseorang harus belajar bahasa Inggris, Ibrani, dan Yunani, semakin giat menghafalkan kata-kata baru dan melatih menerjemahkan, maka ia semakin trampil menghasilkan terjemahan yang tepat. Oleh karena itu, never go down !
Salah satu dari berbagai permasalah tersebut terletak pada lemahnya kemampuan menulis siswa. Kebanyakan siswa lebih berorientasi pada menghafal teori dalam menyelesaikan soal-soal. Mereka minim sekali dalam pembelajaran menulis secara praktik. Ruang gerak meraka dalam mengapresiasikan diri dalam pengembangan ide, gagasan, atau argumen lewat menulis sangat lemah. Kurang.
Adalah pengalaman belajar yang kurang kita transfer ke siswa. Guru kurang memberikan pengalaman belajar, khususnya dalam pembiasaan menulis. Di sini guru bahasa Indonesia tidak bisa dijadikan kambing hitan dalam lemahnya pembiasaan menulis siswa. Tetapi menjadi tanggung jawab guru secara keseluruhan.
Kata kuncinya adalah bekerja sama antarguru mata pelajaran. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia bisa mengajarkan tentang penulisan sebuah karya tulis ilmiah yang baik dalam bentuk makalah yang sangat sederhana. Guru mata pelajaran lain bisa memberikan tugas kepada siswa untuk menuliskan sebuah karya tulis dalam bentuk makalah sederhana. Guru sejarah, misalnya, bisa menugaskan siswa membuat karangan tentang bagaimana terjadinya Perang Diponegoro. Guru IPA dapat menyuruh siswa menyusun karya tulis sederhana tentang budi daya jamur tiram putih. Guru matematika bisa menugasi anak didiknya tentang aplikasi limit dan integral dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, adalah energi motivasi kepada siswa harus benar-benar dijadikan sebagai ’alat bantu’ yang bisa menjembatani antara niat, minat, dan produk.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu. Aapakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Strategi Menulis
Anggapan yang keliru bahwa menulis itu memerlukan bakat khusus. Sebenarnya, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran, yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen yang terkait dengan faktor bakat. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.
Strategi untuk mengembangkan pembelajaran menulis di sekolah adalah:
1. Beri siswa permasalahan
2. Ajak siswa untuk merekam permasalahan dalam tulisan
3. Ajak siswa untuk menjawab 5W + 1H dalam setiap permasalahan
4. Beri ruang gerak siswa dalam mengapresiasikan gagasan idenya
5. Beri mereka sarana untuk mengaktualisasikan karya
6. Beri penghargaan
Kata Kunci
Menulis, berarti kita memasuki dunia ketrampilan. Semakin sering seseorang menulis, maka ia semakin terampil. Semakin trampil seseorang menulis, maka ia semakin menghasilkan tulisan yang berbobot. Karena ia harus trampil bertata bahasa dan EYD yang baik, juga trampil menuangkan gagasan yang ada, trampil membaca kondisi masyarakat, trampil mencari footnote, dan trampil untuk menperdalam masalah. Begitu juga kalau seseorang harus belajar bahasa Inggris, Ibrani, dan Yunani, semakin giat menghafalkan kata-kata baru dan melatih menerjemahkan, maka ia semakin trampil menghasilkan terjemahan yang tepat. Oleh karena itu, never go down !
Thursday, April 2, 2009
Saya, Guru, dan Konsep 5 W + 1 H
Profesi guru adalah profesi adiluhung, menurut saya. Profesi yang tidak pernah habis atau mati. Tidak pernah selesai dalam batas ruang dan waktu. Tetapi keadiluhungan tersebut harus kita letakkan pada pengertian, guru yang bukan hanya sebatas pada tataran memberikan pengajaran. Terus selesai. Tetapi pemaknaan guru harus kita posisikan pada kata membimbing berkelanjutan. Pada proses holistik.
Menurut saya, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki guru berkualitas. Mengedepankan pada pencerahan anak bangsa. Mengedepankan aplikasi, inovasi dan bukan hanya sekedar tataran teori.
Di sinilah, sebenarnya letak permasalahan bangsa sekarang. Mengapa? Rawannya sumber daya manusia Indonesia ke depan adalah terletak pada benar dan tidaknya guru-guru kita dalam mengemban dan menjalankan profesionalitasnya. Terarah dan tidaknya target ketercapaiannya. Berhasil atau tidaknya rantai pengajarannya. Jangan sampai pendidkan hanya sebatas retorika. Omong kosong tanpa tindakan nyata.
Menurut saya, pertanyaan bagaimana menjalankan profesi guru di era sekarang, akan lebih tepat dan aktual daripada pertanyaan, sudahkan Anda mengikuti sertifikasi ? Mengapa demikian ? Kata ’menjalan profesi’ merupakan deretan kata kerja yang menjurus aplikasi dan bermuara pada hasil yang akan dicapai. Ini adalah manifestasi dari metode, cara, bentuk, strategi, teknik yang kita lakukan dalam ruang lingkup pendidikan kita.
Ketika saya menjadi guru, saya tidak berhenti untuk mencoba. Sampai akhirnya, saya mempraktikan konsep 5 W + 1 H ke siswa. Pembelajaran lebih terarah dan mempermudah saya dalam merancang untuk mencapai target.
Pertama, what, apa. Apa yang harus menjadi menu pertama dan utama untuk siswa ? Hal apa yang sangat penting yang seharusnya kita berikan pada peserta didik ? Lewat pertanyaan ini sebenarnya memiliki keterkaitan langsung dengan sistem pendidikan atau kurikulum yang menjadi rujukan dalam pendekatan pendidikan. Hal yang terkaitan dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pembelajaran, sampai dengan hasil yang dicapai siswa lewat pembelajaran, setidaknya mulai awal bisa terjawab.Untuk itu, saya harus memilah dan memilih, hal apa yang kompetensi dan tidak kompetensi dalam daftar menu harian siswa. Ujian pertama cukup itu.
Kedua, who, siapa. Objek pembelajaran kita adalah peserta didik. Siswa. Mereka sangat kompleksitas. Mulai etika, estetika, moral, prilaku sampai-sampai nilai-nilai kehidupannya. Mereka bukan benda mati yang mengedepankan sikap pasif dan menerima.
Mengubah manusia lebih memiliki tantangan daripada menghadapi benda mati yang memiliki sifat diam dan menunggu. Ketika produk bendanya kurang maksimal, mungkin bisa langsung dipermak ulang. Dipoles. Diproduksi lagi dan setrusnya sampai menghasilkan barang yang memiliki nilai jual tinggi. Memproduk manusia tidak bisa dianalogikan seperti membalikan telapak tengan. Langsung jadi. Peserta didik memiliki proses rasionalitas yang tinggi. Tidak bisa, bim salabim, langsung jadi manusia yang super. Manusia yang genius.
Menurut Sindhunata dalam buku Dilema Usaha Manusia Rasional, akal budi akan digunakan sebagai sarana dan alat untuk memperhitungkan segala, mempertahan diri, dan membuahkan kegunaan sesuai dengan tujuan. Mengubah budaya dan akal budi adalah sebuah perenungan yang harus terjawab ketika kita bertemu dengan siswa. Kapan dan di mana pun.
Saya harus memberikan sentuhan pengalaman dari kita daripada meletakkan ratusan rumus di kognisi mereka. Saya akan memberikan bimbingan daripada menyelesaikan soal-soal yang mengedepankan pemikiran pendek, naik kelas atau lulus dengan nilai memuaskan. Saya lebih mengutamakan cara kerja atau proses yang matang daripada pemecahan secara instan.
Saya menyadari, mereka memiliki potensi ledakan. Kita harus bisa dan mampu mengasah dengan benar. Mereka akan menjadi manusia berpendidikan. Manusia yang mampu berbudaya dan berakal.
Ketiga, where, di mana. Apa kaitannya kata tanya ini dengan saya sebagai guru ? Saya mengajar di daerah Gresik. Daerah yang memiliki pontensi pembelajaran kontekstual. Mulai dari ekonomi, budaya, sejarah, seni, sistem pemerintahan, perdagangan, pariwisata, sampai manusianya. Maka, saya tidak perlu repot mencari objek pembelajaran ke luar daerah. Pembelajaran akan saya fokuskan pada objek tersebut. Mulai mengenalkan, mempelajarai, mengkaji, dan pengolahan data berkaitan sisi tinjauan pembelajaran yang dikaji dan dipelajari.
Keempat, why, mengapa. Pertanyaan ini menjurus pada alasan dari hal yang dilakukan. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran terkini, menurut saya. Pembelajaran yang mengarah pada lingkungan dan permasalahannya. Logis, menurut saya, kalau siswa didik diberikan bekal pengenalan terhadap cara pandangan lingkungan sendiri. Mengenalkan sistem pemerintahan daerah, mempelajari seni, budaya, dan sejarahnya, merekap data ekonomi dan perdagangannya, melihat sisi pariwisata sebagai pemasukan devisa daerah, sampai mengenal watak dan sifat manusianya adalah pembelajaran yang sangat berharga. Siswa akan lebih membumi. Mereka akan lebih mengenal ’rumah sendiri’ sebelum mengenal lebih luas dan jauh pada lingkungan mereka nanti.
Kelima, when, kapan. Kalau teori tentang pembelajaran hanya mengangkasa. Kalau praktik pembelajaran hanya sebatas lembaran-lembaran kertas saja, saya yakin siswa nantinya hanya diajari bermimpi. Atau berangan-angan saja. Supaya siswa kita tidak menjadi generasi pemimpi, pembelajaran terkini yang menitikberatkan pada siswa harus kita mulai sekarang juga. Apa itu inovasi pembelajaran atau kreativitas dalam metode pengajaran ?
Keenam, how, bagaimana. Pertanyaan ini adalah kata kunci dari metote pembelajaran, menurut saya. Berkaitan dengan cara dan praktik yang dilakukan untuk menenuhi target yang dinginkan. Kita semua menyadari, bahwa dunia pendidikan memiliki ruh dalam mencetak, membangun, dan mengarahkan generasi mendatang.
Untuk mengantisipasi sering bergantinya kurikulum, sebaiknya kita menggunakan kurikulum terkini saja, menurut saya. Yaitu kurikulum yang mengarah, menitikberatkan, dan memusat pada siswa sebagai objek pembelajaran.
Kurikulum yang tidak pernah usang adalah kurikulum yang mengutamakan praktik aplikasi ketimbang ceramah tentang teori. Tapi, kita harus ingat bahwa kurikulum adalah benda mati. Maka dibutuhkan orang yang mampu menjalankan dan menerapkan sehingga sasaran bisa tercapai. Untuk itu, dibutuhkan guru yang at home. Guru yang memiliki dedikasi dan orientasi pada inovasi pembelajaran.
Siswa jangan terlalu dikungkung di dalam kelas manakala sedang mempelajari sejarah atau sistem pemerintahan daerah. Siswa jangan disuruh duduk rapi di meja kalau sedang mempelajari kesenian atau penelitian. Ajaklah mereka ke objek pembelajaran nyata. Saya yakin mereka akan lebih enjoy. Lebih memiliki logika imajinasi yang nyata. Lebih merasakan. Lebih mengetahui secara rinci. Bisa menyentuh objeknya. Bisa memandang sampai pengamatan sendiri baik secara individu atau kelompok.
Siswa bukan kelinci percobaan. Mereka adalah ladang subur yang harus kita tanami sesuai dengan jenis tanah dan memberikan pupuk yang sepadan dan berkualitas. Tanaman itu namanya konsep yang benar. Pembelajaran yang benar. Setelah itu dibutuhkan pupuk yang namanya aplikasi nyata. Kerja nyata.
Inilah, pendidikan yang kita idam-idamkan. Pendidikan untuk pencerahan. Pendidikan yang kontekstual.
5 W + 1 H adalah alat bagi saya dalam mengajar. Kendaraan saya dalam mentransformasi ilmu ke siswa. Yang namanya alat atau kendaraan, berarti memiliki ketergantungan siapa yang menggerakkan dan siapa yang mengendarai. Saya merasa, konsep tersebut memiliki nilai tersendiri.
Dengan konsep 5 W + 1 H, saya merasakan, bahwa profesi guru adalah pekerjaan yang penuh tantangan tapi mengasikkan. Dan konsep itulah yang membawaku menjadi guru sampai sekarang ini.
Aku bangga menjadi guru. Kebanggaanku ini mungkin juga dirasakan ratusan bahkan oleh ribuan guru lainnya. Mudah-mudahan.
Menurut saya, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki guru berkualitas. Mengedepankan pada pencerahan anak bangsa. Mengedepankan aplikasi, inovasi dan bukan hanya sekedar tataran teori.
Di sinilah, sebenarnya letak permasalahan bangsa sekarang. Mengapa? Rawannya sumber daya manusia Indonesia ke depan adalah terletak pada benar dan tidaknya guru-guru kita dalam mengemban dan menjalankan profesionalitasnya. Terarah dan tidaknya target ketercapaiannya. Berhasil atau tidaknya rantai pengajarannya. Jangan sampai pendidkan hanya sebatas retorika. Omong kosong tanpa tindakan nyata.
Menurut saya, pertanyaan bagaimana menjalankan profesi guru di era sekarang, akan lebih tepat dan aktual daripada pertanyaan, sudahkan Anda mengikuti sertifikasi ? Mengapa demikian ? Kata ’menjalan profesi’ merupakan deretan kata kerja yang menjurus aplikasi dan bermuara pada hasil yang akan dicapai. Ini adalah manifestasi dari metode, cara, bentuk, strategi, teknik yang kita lakukan dalam ruang lingkup pendidikan kita.
Ketika saya menjadi guru, saya tidak berhenti untuk mencoba. Sampai akhirnya, saya mempraktikan konsep 5 W + 1 H ke siswa. Pembelajaran lebih terarah dan mempermudah saya dalam merancang untuk mencapai target.
Pertama, what, apa. Apa yang harus menjadi menu pertama dan utama untuk siswa ? Hal apa yang sangat penting yang seharusnya kita berikan pada peserta didik ? Lewat pertanyaan ini sebenarnya memiliki keterkaitan langsung dengan sistem pendidikan atau kurikulum yang menjadi rujukan dalam pendekatan pendidikan. Hal yang terkaitan dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pembelajaran, sampai dengan hasil yang dicapai siswa lewat pembelajaran, setidaknya mulai awal bisa terjawab.Untuk itu, saya harus memilah dan memilih, hal apa yang kompetensi dan tidak kompetensi dalam daftar menu harian siswa. Ujian pertama cukup itu.
Kedua, who, siapa. Objek pembelajaran kita adalah peserta didik. Siswa. Mereka sangat kompleksitas. Mulai etika, estetika, moral, prilaku sampai-sampai nilai-nilai kehidupannya. Mereka bukan benda mati yang mengedepankan sikap pasif dan menerima.
Mengubah manusia lebih memiliki tantangan daripada menghadapi benda mati yang memiliki sifat diam dan menunggu. Ketika produk bendanya kurang maksimal, mungkin bisa langsung dipermak ulang. Dipoles. Diproduksi lagi dan setrusnya sampai menghasilkan barang yang memiliki nilai jual tinggi. Memproduk manusia tidak bisa dianalogikan seperti membalikan telapak tengan. Langsung jadi. Peserta didik memiliki proses rasionalitas yang tinggi. Tidak bisa, bim salabim, langsung jadi manusia yang super. Manusia yang genius.
Menurut Sindhunata dalam buku Dilema Usaha Manusia Rasional, akal budi akan digunakan sebagai sarana dan alat untuk memperhitungkan segala, mempertahan diri, dan membuahkan kegunaan sesuai dengan tujuan. Mengubah budaya dan akal budi adalah sebuah perenungan yang harus terjawab ketika kita bertemu dengan siswa. Kapan dan di mana pun.
Saya harus memberikan sentuhan pengalaman dari kita daripada meletakkan ratusan rumus di kognisi mereka. Saya akan memberikan bimbingan daripada menyelesaikan soal-soal yang mengedepankan pemikiran pendek, naik kelas atau lulus dengan nilai memuaskan. Saya lebih mengutamakan cara kerja atau proses yang matang daripada pemecahan secara instan.
Saya menyadari, mereka memiliki potensi ledakan. Kita harus bisa dan mampu mengasah dengan benar. Mereka akan menjadi manusia berpendidikan. Manusia yang mampu berbudaya dan berakal.
Ketiga, where, di mana. Apa kaitannya kata tanya ini dengan saya sebagai guru ? Saya mengajar di daerah Gresik. Daerah yang memiliki pontensi pembelajaran kontekstual. Mulai dari ekonomi, budaya, sejarah, seni, sistem pemerintahan, perdagangan, pariwisata, sampai manusianya. Maka, saya tidak perlu repot mencari objek pembelajaran ke luar daerah. Pembelajaran akan saya fokuskan pada objek tersebut. Mulai mengenalkan, mempelajarai, mengkaji, dan pengolahan data berkaitan sisi tinjauan pembelajaran yang dikaji dan dipelajari.
Keempat, why, mengapa. Pertanyaan ini menjurus pada alasan dari hal yang dilakukan. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran terkini, menurut saya. Pembelajaran yang mengarah pada lingkungan dan permasalahannya. Logis, menurut saya, kalau siswa didik diberikan bekal pengenalan terhadap cara pandangan lingkungan sendiri. Mengenalkan sistem pemerintahan daerah, mempelajari seni, budaya, dan sejarahnya, merekap data ekonomi dan perdagangannya, melihat sisi pariwisata sebagai pemasukan devisa daerah, sampai mengenal watak dan sifat manusianya adalah pembelajaran yang sangat berharga. Siswa akan lebih membumi. Mereka akan lebih mengenal ’rumah sendiri’ sebelum mengenal lebih luas dan jauh pada lingkungan mereka nanti.
Kelima, when, kapan. Kalau teori tentang pembelajaran hanya mengangkasa. Kalau praktik pembelajaran hanya sebatas lembaran-lembaran kertas saja, saya yakin siswa nantinya hanya diajari bermimpi. Atau berangan-angan saja. Supaya siswa kita tidak menjadi generasi pemimpi, pembelajaran terkini yang menitikberatkan pada siswa harus kita mulai sekarang juga. Apa itu inovasi pembelajaran atau kreativitas dalam metode pengajaran ?
Keenam, how, bagaimana. Pertanyaan ini adalah kata kunci dari metote pembelajaran, menurut saya. Berkaitan dengan cara dan praktik yang dilakukan untuk menenuhi target yang dinginkan. Kita semua menyadari, bahwa dunia pendidikan memiliki ruh dalam mencetak, membangun, dan mengarahkan generasi mendatang.
Untuk mengantisipasi sering bergantinya kurikulum, sebaiknya kita menggunakan kurikulum terkini saja, menurut saya. Yaitu kurikulum yang mengarah, menitikberatkan, dan memusat pada siswa sebagai objek pembelajaran.
Kurikulum yang tidak pernah usang adalah kurikulum yang mengutamakan praktik aplikasi ketimbang ceramah tentang teori. Tapi, kita harus ingat bahwa kurikulum adalah benda mati. Maka dibutuhkan orang yang mampu menjalankan dan menerapkan sehingga sasaran bisa tercapai. Untuk itu, dibutuhkan guru yang at home. Guru yang memiliki dedikasi dan orientasi pada inovasi pembelajaran.
Siswa jangan terlalu dikungkung di dalam kelas manakala sedang mempelajari sejarah atau sistem pemerintahan daerah. Siswa jangan disuruh duduk rapi di meja kalau sedang mempelajari kesenian atau penelitian. Ajaklah mereka ke objek pembelajaran nyata. Saya yakin mereka akan lebih enjoy. Lebih memiliki logika imajinasi yang nyata. Lebih merasakan. Lebih mengetahui secara rinci. Bisa menyentuh objeknya. Bisa memandang sampai pengamatan sendiri baik secara individu atau kelompok.
Siswa bukan kelinci percobaan. Mereka adalah ladang subur yang harus kita tanami sesuai dengan jenis tanah dan memberikan pupuk yang sepadan dan berkualitas. Tanaman itu namanya konsep yang benar. Pembelajaran yang benar. Setelah itu dibutuhkan pupuk yang namanya aplikasi nyata. Kerja nyata.
Inilah, pendidikan yang kita idam-idamkan. Pendidikan untuk pencerahan. Pendidikan yang kontekstual.
5 W + 1 H adalah alat bagi saya dalam mengajar. Kendaraan saya dalam mentransformasi ilmu ke siswa. Yang namanya alat atau kendaraan, berarti memiliki ketergantungan siapa yang menggerakkan dan siapa yang mengendarai. Saya merasa, konsep tersebut memiliki nilai tersendiri.
Dengan konsep 5 W + 1 H, saya merasakan, bahwa profesi guru adalah pekerjaan yang penuh tantangan tapi mengasikkan. Dan konsep itulah yang membawaku menjadi guru sampai sekarang ini.
Aku bangga menjadi guru. Kebanggaanku ini mungkin juga dirasakan ratusan bahkan oleh ribuan guru lainnya. Mudah-mudahan.
Aplikasi Pembelajaran B.Indonesia

Pembelajaran Aplikatif Bahasa Indonesia yang Menantang dan Menyenangkan
Terobosan, UH dengan Praktik Aplikatif
Memberikan pembelajaran yang aplikatif, menyenangkan, dan menantang tentu sangat menentukan dalam membentuk mental dan pengalaman siswa ke depan. Siswa akan memiliki wawasan dan kreativitas kalau diberikan tantangan berupa pembelajaran yang sesuai dengan usianya.
Setiap pelajaran seharusnya disuguhkan dengan dan berorientasi aplikatif. Seperti halnya Pembelajaran bahasa Indonesia. Lewat pembelajaran wawancara, siswa tidak hanya diberi tantangan berwawancara dengan guru dan karyawan yang ada di sekolah. Atau pada orang tua atau petugas RT/RW yang ada di sekitar rumanya. Siswa diberikan orientasi bahwa objek wawancara sangat banyak. Beragam. Tema yang disuguhkan juga beraneka ragam.
Ketika bulan Ramadhan, siswa SMP Muhammmadiyah 12 GKB Gresik, kelas VIII, mencoba aplikasi jurnalistiknya dengan wawancara penjual pada pasar dadakan yang berada di Perumahan Gresik Kota Baru. Siswa melakukan wawancara kepada penjual dan pembeli pasar jajanan buka puasa. Tidak hanya mengorek cerita dibalik kisah jualan sampai modal dan keuntungannya, siswa juga menerapkan pembelajaran fotografer.
Hanya berselang 1 minggu, 1 kelompok yang terdiri dari 1 siswa sebagai penulis dan fotografer sudah menyelesaikan tugas akhir sebagai ulangan hariannya ke Pembina. Tanpa disadari sebelumnya, karya mereka benar-benar bisa menggambarkan karya jurnalistik professional.
Ulangan harian siswa dijalani dengan aplikasi dan tantangan tidak hanya berkisar pada teori dan teori saja. Menulis itu butuh belajar langsung. Dari situ, siswa merasakan sendiri bahwa menulis adalah kebutuhan dan seni.
Berikut kutipan 3 karya siswa yang terbaik secara berurutan
Naskah terbaik 1
Mantan Preman Rela Jualan Demi Kebutuhan Sehari-Hari
Saat bulan ramadhan tiba, seorang mantan preman yang bernama Lanu, berjulan sinom di depan SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik. Pada tanggal 12 September ada beberapa anak yang membantu mempromosikan dagangan Lanu. Saat itu pun, dagangan Lanu laku banyak dari hari biasanya. Lanu berjualan sinom milik majikannya. Lanu menjual sinomnya seharga Rp. 2500 per botolnya. Pedagang itu hanya untung Rp. 500 rupiah perbotolnya. Dia rela berjulan sinom hnya untuk menghidupi kebutuhannya sehari – hari. Lanu berjualan tidak hanya pada waktu ramadhan saja. Biasanya hari – hari biasa dia juga berjualan, tetapi dia tidak berjualan sinom, melainkan batagor dengan tempat yang sama.
Biasanya kalau dagangan Lanu tidak habis, maka Lanu tidak makan. Lanu berjualan mulai awal ramadhan. Kemungkinan tahun depan dia akan beralih berejualan yang lain. Setiap harinya, rata – rata Lanu hanya mendapatkan untung Rp. 5000,00 rupiah saja.
“Kalau setiap harinya saya hanya mendapatkan untung 5000 saja, terkadang saya tidak makan sahur, karna uang yang ada
tidak cukup untuk menghidupi keluargaku” ujar sang penjual. Lanu mempunyai seorang istri.
Lanu dulunya bekehidupan kurang mampu. Tetapi Lanu menyadari, bahwa kehidupn Lanu yang dulu tidak sebaik kehidupan Lanu yang sekrang. Lanu sekarang lebih merasa senang, karna di sini, Lanu memounyai teman yang banyak dan sangat baik dengan dia. Ketika dia masih bersekolah, Lanu bersekolah hanya sampai kelas 3 sekolah dasar. Karna Lanu merasa bahwa dia adalah seorang yang dijadikn bahan ledekan teman– temannya. Dia sering dihina sama teman-teman Lanu yang kaya. Tetapi Lanu terus berjuan mencari kelemahan orang yang selalu menghina dia. Akhirnya Lanu melakuakan yang seharusnya tidak dilakuakan.
Abdur Rozaq dan Nindya V.E. / VIII - D
Naskah terbaik 2
Mengulas lebih lanjut Variasi Unik Pedagang Pasar Dadakan
Berniat Coba-Coba, Malah Ketiban Untung
Ramadhan sebagai bulan yang berkah. Hal positif dapat dilakukan pada bulan suci ini. Suasana ramadhan sangat berpengaruh di Gresik Kota Baru (GKB). Salah satunya, pasar dadakan yang sedang terjadi selama bulan suci. Berbagai kesibukan dengan pembeli dapat dilihat di jajaran pedagang makanan di pinggir jalan raya.
Tak mau terlewatkan. Yanti(39), selepas kewajiban sebagai ibu rumah tangga terselesaikan, Yanti bergegas untuk menjual kue ringan sebagai tambahan penghasilan.Yanti yang membuka usahanya bersama dengan kelurga, tak perlu mengeluarkan dana yang banyak. Bermodalkan kendaraan mobil suami, Yanti siap untuk mulai berdagang tepat pukul 15.00. “Moment ini eman kalau tidak dimeriahkan dengan berjualan makanan favorit saya, yaitu: kacang, kue,dsb.,”ujar Yanti. “Kalau tidak laku, saya bawa lagi pulang dan dibagikan ke semua keluarga waktu lebaran nanti,” tambahnya.
Lain Yanti lain juga Sumia.Sumiah, ibu yang berasal dari Jogja dan membuka awal usaha warung makanan gudeg di Surabaya. Sumia yang berniat untuk meramaikan bulan suci dan memperkenalkan masakan khas Jogja malah tumbuh menjadi tekad awalnya membuka cabang di Gresik. “Respon warga Gresik sangat bagus. Pantas, tak perlu berpikir panjang untuk membuka cabang warung pertama di Gresik,” ujar Mia. “Warung kami tak akan mengubah cita rasa atau menu yang telah menjadi ciri khas warung pojoek yang ada di Jalan Surakarta Surabaya.” jelasnya secara singkat.
Yanti dan Sumiah, dua contoh pedagang yang tak memperdulikan adanya laba. Tujuan mereka hanya memeriahkan bulan ramadhan dengan membuat variasi cara dagang yang unik. Tak peduli BBM naik, mereka tetap nekad berjualan di dalam kendaraan mobil. Sikap mereka yang cuek, malah mendatangkan keuntungan yang cukup banyak. “Sewa tempat gratis dan BBM yang tidak mempengaruhi usaha kami, membuat kami untuk berdagang di dalam mobil ditambah dengan menggunakan busana khas Jogja.Biar menarik!”jelas Sumia.“BBM naik, harga kacang dan kue otomatis saya tambahkan.Kacang yang dijual bentuknya unik dan dijual diatas bagasi mobil membuat pembelinya tetap banyak yang tertarik,”jelas Yanti.
Begitulah variasi unik yang dilakukan oleh dua pedagang yang mendadak untung. Padahal mereka berniat untuk memeriahkan bulan ramadhan tahun ini. Semoga akan ada variasi unik yang terjadi di tahun depan. (Karya Faudina dan Helmi, VIII D)
Naskah Terbaik 3
Kolak Jadikan Tulang Punggung
Bulan Ramadhan hanya datang sekali tiap tahun. Bulan Ramadhan juga identik dengan kolak. Minuman yang berisi kacang hijau atau pisang ini, memang cocok sekali diminum saat bedug magrib tiba. Dengan harga terjangkau semua kalangan bisa menikmatinya Tetapi, di GKB Ramadhan identik dengan pasar dadakannya. Sehingga ini menguntungkan banyak orang untuk mengambil lahan di GKB sebagai tempat berjualan. Semua penjual dadakan memenuhi sepanjang jalan di GKB. Akibatnya sepanjang jalan itu macet karena sepeda motor dan mobil. Namun itu tidak menghentikan niat penjual untuk tetap berjualan.
Di Pasar dadakan itu banyak penjual yang menjual kolak, takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Seperti Erna, anak yang masih berumur 17 tahun ini memilih berjualan kolak. Karena cara membuatnya tergolong mudah dan banyak peminatnya. Satu kolak ia hargai Rp. 3000,00. Sebenarnya bukan kolak saja yang ia jual. Tapi ada sayur asam,bayam dan nasi kuning. Dia baru 1 tahun berjualan dan hanya pada saat Ramadhan saja. Dia berjualan dari jam 15.40 - !7.30. Hanya dengan modal Rp. 100.000 dari tabungan kedua orang tuanya, Erna mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 200.000. Keuntungan dari hasil julan digunakan untuk membiayai adiknya bersekolah dan makan sehari-hari. Terkadang,kalu kolaknya tidak habisterjual dia berikan kepada tetangganya. Erna adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakanya sudah bekerja dan jauh dari keluarga, Seharusnya Erna duduk dibangku kelas 2 SMA, namun karena faktor ekonomi dia harus berhenti sekolah dan adiknya sekarang masih SMA kelas satu. Walaupun dia dan adiknya masih tinggal dengan orang tua, Erna yang menjual hasil dagangan orang tuanya sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya.
Perjuangan Erna untuk membiayai hidup sangat berat. Dia lahir dan tinggal di Lamongan. Tiap hari dia harus pulang pergi Lamongan – Gresik hanya untuk berjualan di GKB. “kalau di GKB itu ramai, apalagi saat bulan Ramadhan.”, ujar Erna. Meskipun rasanya berat sekali, Erna tidak pernah mengeluh. Dia tetap semangat menjalani hidup. Karena dia yakin dengan semangat, hidup akan lebih berarti.
Subscribe to:
Posts (Atom)

